Berita

Belajar Makna Kehidupan dari Sepasang Sepatu di Upacara Senin SMP Negeri 3 Turi

Turi, 19 Januari 2026 di lapangan upacara SMP Negeri 3 Turi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga sekolah, meliputi peserta didik kelas VII, VIII, dan IX, Bapak/Ibu guru, serta karyawan Tata Usaha.

Upacara bendera berlangsung dengan tertib dan khidmat. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ibu Fiyoke Karina Meidika, S.Pd, sementara petugas upacara dipercayakan kepada peserta didik kelas VIII B. Seluruh rangkaian upacara, mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera Merah Putih, pembacaan UUD 1945, pembacaan doa, hingga pengaturan barisan, dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Dalam amanatnya, pembina upacara menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh petugas upacara atas kesiapan, keberanian, dan kedisiplinan yang ditunjukkan. Semangat dan kekompakan petugas upacara diharapkan dapat menjadi teladan bagi seluruh peserta didik di SMP Negeri 3 Turi.

Melalui kegiatan upacara bendera ini, diharapkan seluruh warga sekolah semakin menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta semangat kebersamaan dalam menjalani proses belajar dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Dalam amanatnya, Ibu Fiyoke Karina Meidika, S.Pd mengajak peserta didik untuk merenungkan makna sederhana dari sepatu yang digunakan setiap hari sebagai simbol pembelajaran hidup.

Beberapa pesan penting yang disampaikan antara lain:

  1. Berani melangkah maju, seperti sepatu yang selalu bergerak ke depan, sebagai simbol keberanian untuk belajar hal baru dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

  2. Kekompakan dan kerja sama, diibaratkan sepatu kanan dan kiri yang berbeda namun saling melengkapi agar dapat berjalan dengan baik.

  3. Kedisiplinan dimulai dari hal kecil, seperti merapikan tali sepatu agar tidak tersandung, yang mencerminkan pentingnya keteraturan, ketepatan waktu, dan menjaga diri.

  4. Tetap semangat meski menghadapi kesulitan, sebagaimana sepatu yang tetap setia digunakan meskipun kotor, basah, atau terinjak.

Di akhir amanat, pembina upacara berharap agar seluruh peserta didik menjadi murid yang tenang hatinya, kuat langkahnya, dan hebat sikapnya, serta selalu siap melangkah menghadapi masa depan dengan penuh semangat dan tanggung jawab.